Pantaskah kita disebut Orang Indonesia?

flag-828782_1920

For my English-speaking fellows, sorry to write in Bahasa here due to some certain expressions that i cannot express in English 🙂

Sudah beberapa minggu belakangan ini saya menahan diri untuk tidak menulis dan berkomentar apapun tentang isu-isu yang ada Indonesia. Bukan karena saya tidak cinta lagi atau tidak peduli lagi, tapi simply karena saya speechless setiap kali melihat timeline di facebook. Hampir semua berita mengenai Indonesia yang saya lihat menebarkan kebencian, makian, ataupun semua hal yang berbau negatif. Lalu saya bertanya dalam hati, apa yang ada di benak orang-orang ini? Prioritas apa yang dimiliki Indonesia sekarang? Saya memilih untuk bungkam.

Sudah hampir dua tahun saya tidak pulang ke Indonesia karena masa studi saya di negeri orang yang belum berakhir. Saya rindu dengan negara ini. Rindu dengan keberagaman masakannya yang bisa saya temui di setiap pojokan jalan. Rindu dengan abang-abang dan mba-mba warung tempat saya dulu jajan. Namun pertanyaan yang sekarang muncul di kepala saya, apakah nanti ketika saya pulang saya akan mendengar hal yang sama dari mulut mereka dengan yang saya lihat di timeline facebook saya?

Hampir setiap orang Indonesia di timeline Facebook saya membahas isu-isu yang katanya lagi hot di tanah air. Dari mulai LGBT, sensor tayangan di tv, hingga radikalisme yang membawa-bawa agama. Ada yang membela mati-matian, ada pula yang super-anti dengan isu yang berkaitan. Tapi hanya sedikit yang bisa membawa rasionalisme ke dalam argumen-argumennya, ini yang saya acungkan hormat kepada mereka karena bisa memberi saya harapan bahwa masih ada orang-orang yang masuk akal.

Orang-orang yang Mendidik, bukan memaki. Mengingatkan, bukan menghakimi. Mengajak, bukan mengecam.

Tipis bedanya dari seluruh kata-kata di atas. Ya, paling tidak untuk sebagian orang. Kita kadang merasa benar dan percaya akan kebenaran pendapat kita, sampai-sampai lupa akan akal sehat dan rasional.

Betul, bahwa agama adalah prioritas utama orang yang beriman. Tapi apakah semua agama memiliki aturan, cara, dan toleransi beribadah yang sama hingga kita bisa menghakimi orang lain yang memiliki perbedaan? Apakah pantas kita memaki orang lain dengan keyakinan yang berbeda, padahal kita yakin bahwa kita adalah orang yang beragama? Jika setiap agama dianjurkan untuk menyebarkan kebaikan, lantas kenapa kita, umatnya menyebarkan kebencian?

Mendidik, bukan memaki. Mengingatkan, bukan menghakimi. Mengajak, bukan mengecam.

Indeed, kita sekarang memilih untuk tinggal, menjunjung, dan mencintai negara kita, Indonesia. Kita bersumpah atas nama Pancasila dan berteriak Bhinneka Tunggal Ika setiap hari sewaktu masa sekolah. Paling tidak sembilan tahun lamanya kita belajar tentang pendidikan kewarganegaraan dan keadilan sosial. Namun sekarang, apakah kita mengamalkan apa yang kita pelajari selama sembilan tahun tersebut? Kita dulu diajarkan untuk memiliki toleransi yang tinggi antar umat beragama dan menghargai perbedaan sekecil apapun. Pantaskah kita sekarang berkoar-koar mendeskriminasi beberapa golongan minoritas dengan mengatasnamakan rasa cinta dan pembelaan kita terhadap Indonesia?

Jujur, saya sudah lelah ditanya teman-teman asing saya di kelas dan di kantor mengenai isu-isu di Indonesia. Kaget. Ya, kaget karena yang ditanyakan hanyalah berita-berita negatif tentang Indonesia. Ya, mungkin kalian bisa bilang karena media hanya mem-blow up berita-berita jelek saja. Nope! Sayangnya bukan perkara membesar-besarkan berita jelek saja. Tapi memang hanya berita buruk itu saja yang ada di luar tentang Indonesia, negara yang ‘katanya’ kita banggakan. Sekalinya ada berita baik, itupun hoax. Sedih. Baru berita mengenai Joey Alexander saja yang membuat saya semangat akhir-akhir ini. Sisanya nihil.

Pantaskah kita bilang kalau kita bangga dan harus membela Indonesia, padahal tanpa sadar, kitalah yang menjelekkan nama Indonesia di mata dunia? Dunia ini bukan hanya sebatas dari Sabang sampai Merauke lho..

Kita yang katanya orang terdidik, berbudaya, dan ber-Bhinneka Tunggal Ika, masih saja memaki orang-orang yang satu negara dengan kita, satu budaya dengan kita, satu darah dengan kita. Kita yang katanya bangga dengan keberagaman, pun dengan bangganya mengolok orang-orang yang memiliki perbedaan dengan kita. Indonesia yang merupakan negara paling kaya akan keberagaman dengan ratusan adat, suku, dan bahasa, pun negara yang paling takut dengan pluralisme.

Sekarang ini kita nampaknya bingung dengan prioritas negara. Isu pentingnya menghilangkan korupsi pun terbenam dengan ribetnya kita yang minta tayangan Doraemon disensor. Isu pentingnya kemajuan ekonomi pun terlupakan dengan pentingnya masalah sosial kejiwaan dan LGBT.

Siapkah kita mendidik generasi muda nanti kalau kita saja masih susah membedakan antara mendidik dan menghakimi?

Pantaskah kita disebut orang Indonesia kalau nilai-nilai dasar ke-Pancasilaan yang kita pelajari bertahun-tahun saja tidak pernah dilakukan?

Pantaskah kita disebut orang-orang beragama kalau yang kita lakukan hanyalah menyebarkan kebencian terhadap orang lain?

Ingat,

Mendidik, bukan memaki. Mengingatkan, bukan menghakimi. Mengajak, bukan mengecam.